Rabu, 25 Februari 2009

Batik Asti Diambil dari Ashadi dan Tutik


BATIK ASTI yang beralamat di Pesindon III/5 A, mungkin sebagian masyarakat Pekalongan sudah mengenalnya. Namun, apa arti 'Asti' dan latar belakang hingga dinamakan Batik Asti. Mungkin internal keluarga dari produsen Batik Asti saja yang mengetahui.
Ketika pemilik Batik Asti, Tutik Susetiowaty dihubungi Radar, Selasa (23/9) mengatakan, Asti diambil dari nama suaminya Ashadi, dan dirinya. "Jadi, kalau Ashadi digabung dengan Tutik disingkat menjadi Asti," ucapnya tersenyum.
Usaha batiknya diberi nama Batik Asti, kata Bu Tutik-sapaan akrabnya, karena usaha memproduksi batik dirintis bersama-sama dengan suaminya. "Setelah saya nikah, saya bersama suami memproduksi batik sampai sekarang," kenangnya.
Namun mengenai seluk-beluk batik, Bu Tutik mengaku sudah mengenal sejak kecil. Itu karena orang tuanya adalah pengusaha batik juga. Sehingga batik, baginya bukan hal baru. Bahkan batik, bagi Tutik sudah 'mendarah daging'. Sebab dirinya dinafkahi dari usaha batik.
Bu Tutik mengakui, bila modal awal yang dipakai untuk memproduksi batik berasal dari bantuan orang tuanya. Dari sedikit demi sedikit, akhirnya menjadi besar seperti saat ini. "Alhamdulilah Mas (hingga usaha besar)," jawabnya.
Untuk menjadi yang sekarang ini, Bu Tutik mengaku tidak mudah. Meskipun orang tuanya adalah pengusaha batik, dan orang tua dari suami juga seorang pengusaha batik. Namun usaha yang dirintis bersama suaminya dikerjakan berdua. "Jadi susah senang kami lakukan bersama," ungkapnya.**'Dibabarkan' Orang Lain**
Bu Tutik menjelaskan, kalau awal-awal usaha batik, semuanya dikerjakan olehnya dan suami. Seiring dengan perjalanan waktu, kini untuk proses produksi batik dibabarkan (dikerjakan) orang lain. Namun untuk penjahitan menjadi baju batik ditangani sendiri. "Saya punya tukang menjahit. Jadi mereka yang menjahit."
Meski proses produksi batik dikerjakan orang lain, lanjut Bu Tutik, namun dirinya tidak bisa dibohongi mengenai kualitas kain batik. "Karena saya sejak kecil sudah berurusan dengan batik. Jadi memahami kualitas batik," ungkapnya.
Ditanya soal unggulan Batik Asti? Bu Tutik menyebut, bila unggulannya adalah hem batik. Kendati yang lain juga termasuk unggulan, seperti blus, dan selendang.
Soal harga? Bu Tutik menyebut, tergantung dari bahan yang dipakai, serta kerumitan dalam memproduksi batik. "Tentu kalau bahannya katun lebih murah bila dibandingkan dengan sutra. Kalau sutra lebih mahal," tukasnya.
Sedangkan mengenai pemasarannya? Bu Tutik mengaku menjual produk batiknya di Grosir Setono, Grosir Pantura, dan memasok produk di Semarang dan di Jakarta. "Selain menjual produk secara eceran di grosir, juga memasok produk batik di Semarang dan di Jakarta," tutur Bu Tutik mengakhiri pembicaraan. (Abdurrahman)

Konversi Gas Diundur, Pemkot Upayakan Mitan Lancar

Kelangkaan minyak tanah (mitan) yang terjadi beberapa waktu lalu di Kota Pekalongan tidak hanya meresahkan warga, namun juga menghambat produksi batik pada perajin batik baik dalam produksi skala besar maupun kecil.Meski kini pasokan mitan sudah berjalan normal, namun untuk mengantisipasi kelangkaan terulang kembali, Pemkot Pekalongan menghimbau kepada para perajin batik skala kecil agar mendaftarkan usahanya tersebut ke Kantor Dinas Perdagangan, Perindustrian dan Koperasi (Disperindakop) dengan tujuan untuk mendapatkan jatah mitan. Antisipasi ini menyusul beredarnya kabar jika konversi dari mitan ke gas akan diundur. Pernyataan ini diungkapkan oleh Wakil Wali Kota Pekalongan, H. Abu Almafachir, kemarin.Menurutnya, konversi gas yang akan dilakukan mulai Mei mendatang dirasa belum matang. Sebab hingga saat ini belum satupun SPBE yang didirikan. Sedangkan sosialisasi untuk konversi gas akan dilakukan Maret sampai April nanti. Almafachir mengungkapkan saat ini ada ribuan perajin batik skala kecil yang ada di Pekalongan. "Dari ribuan perajin batik, terhitung hanya 616 perajin saja yang baru terdaftar di Disperindakop," ujarnya.Lebih lanjut Almafachir mengatakan, himbauan ini dikhususkan bagi perajin batik yang usahanya tergolong kecil. "Kami fokus pada perajin batik kecil-kecilan," imbuhnya.Untuk itu Ia meminta kepada pihak Disperindakop agar menurunkan petugas ke perkampungan untuk mendata perajin batik dengan usaha skala kecil. (*)

Jumat, 20 Februari 2009

Kreasi Helm Batik


TAUFIK TAROJI, warga Banyurip Alit Kecamatan Pekalongan Selatan, tak kehabisan ide untuk
mengkreasikan motif batik dipadukan dengan helm. Setelah sekitar September tahun lalu, kenaikan harga kain mori melanda perajin batik di Kota
Pekalongan, pria yang sehari-hari pernah bekerja sebagai buruh batik ini merasa prihatin atas
kondisi tersebut. Pasalnya, melambungnya harga mori dipasaran membuat para pengrajin batik
terpaksa mengurangi produksi pembuatan batik. Bahkan ada bos batik yang merumahkan buruhnya.Asal muasal terciptanya helm batik ini bermula saat dirinya 'wedangan' di warung dekat rumahnya.
"Waktu itu saya bilang daripada nganggur nggak mbatik mendingan mbatik di helm saja. Sejak itu saya mulai mempraktekkannya," terangnya. Untuk memproduksi helm batik, Taroji membeli helm dengan kondisi BS dan kemudian helm-helm tersebut diamplas dan dilukis motif batik. Kini dalam satu hari Ia bisa menghasilkan dua buah karya helm batik yang Ia jual dengan harga tujuh puluh lima ribu rupiah per helm. "Terus terang untuk saat ini saya kekurangan modal dan selain itu saya juga kesulitan dalam memasarkannya." terangnya.Ia berharap ke depan akan ada bantuan dari pihak pemkot atas usaha helm batiknya tersebut. (*)

Minggu, 15 Februari 2009

Lestarikan Batik Dengan Pendidikan




PEKALONGAN – Hari Sabtu (14/2) bertempat di Museum Batik Pekalongan diselenggarakan pertemuan pembahasan mengenai Pendidikan dan Pelatihan (Best Practice) Budaya Batik. Acara yang mengundang seorang narasumber yang sekaligus pakar budaya batik, Gaura Mancacarita Dipura, ini dibuka dengan sambutan dari Wali Kota Pekalongan, dr HM Basyir Ahmad. Selain itu, acara yang dilaksanakan dalam rangka persiapan penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan (Best Practice) Budaya Batik Bagi Anak-anak Sekolah ini juga mengundang Iman Sucipto Umar, selaku Ketua Umum yayasan Kadin Indonesia.Adapun susunan acara yakni dengan dua sesi diskusi dan dilanjutkan dengan presentasi mengenai konsep nominasi pendidikan dan pelatihan budaya batik oleh Gaura. Gaura mengatakan, sebagai negara yang telah meratifikasi Konfensi Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention On The Saveguarding IntangibleCultural Heritage), Indonesia harus melakukan langkah-langkah penyelamatan warisan budaya diantaranya dengan pembuatan inventori.Dalam rangka pembuatan inventori, saat ini Departemen Budaya dan Pariwisata (Depbudpar) sedang mengupayakan untuk memasukkan batik sebagai produk karya budaya ke dalam Peta Kebudayaan Indonesia.Sedangkan acara yang berlangsung di Museum Batik Pekalongan Sabtu lalu ini merupakan sebuah upaya untuk melestarikan batik melalui jalur pendidikan. "Dengan adanya pelatihan bagi anak-anak sekolah maka diharapkan ada generasi-generasi baru yang muncul, dan apabila hal ini dilakukan setiap tahun maka kelestarian batik akan tetap terjaga," ucap Gaura.Selain seminar, dalam acara tersebut juga dilakukan semacam pengenalan dan pelatihan batik kepada para siswa sekolah. Diantaranya kepada siswa TK Masyithoh dan siswa SMP 1 Pekalongan. Tampaknya pengenalan batik kepada para siswa mendapat respons yang positif. Terlihat mereka sangat asyik melakukannya seperti menyolet dan ngeblok kain mori dengan malam.Salah satu siswa SMP 1 Pekalongan mengaku di sekolah mereka juga mendapatkan pelajaran keterampilan batik. “Pelajaran batik sebagai mulok,” ujar salah satu siswa yang saat itu sedang mengerjakan proses nyolet. Saat ini yang sedang direncanakan oleh bangsa Indonesia adalah mendirikan sekolah khusus batik. Hal tersebut bisa berbentuk akademi atau sebagai salah satu jurusan pada lembaga pendidikan tinggi yang telah ada seperti Institut Seni Indonesia. (*)

Batik Dinominasikan Ke Unesco


SEBAGAI ikon dari Kota Pekalongan, batik diibaratkan sebagai urat nadi perekonomian terpenting yang mampu menghidupi ribuan orang yang menggantungkan hidupnya dari sektor ini. Batik di Pekalongan telah ada dan dikerjakan secara tradisional turun temurun sejak ratusan tahun yang lalu. Hingga pada saat ini batik telah menjadi identitas kota Pekalongan, maka tak heran apabila orang menyebut Kota Pekalongan maka langsung terasosiasikan dengan batik.Saat ini batik telah dinominasikan ke UNESCO sebagai salah satu warisan budaya tak benda yang diakui dunia dan sedang dalam proses penilaian oleh 6 negara anggota Subsudiary Body UNESCO. Pada proses pengajuan batik sebagai nominasi di UNESCO, peranan Gaura Mancacarita Dipura, seorang pemerhati budaya asal Australia ini mempunyai peranan yang besar. Sebagai seorang WNI, kecintaan Gaura terhadap Indonesia dan budayanya tidak diragukan lagi, termasuk kecintaannya terhadap batik. “Indonesia berkewajiban melakukan langkah-langkah dengan cara penyelamatan warisan budaya tak benda diantaranya dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat pendidikan,” terang Gaura saat dijumpai di Museum Batik Pekalongan Hari Sabtu (14/2).Menurut Gaura, untuk memasukkan batik ke UNESCO, ada empat tahap test yang harus dilalui.“Saat ini batik Indonesia telah berhasil melewati 2 tahap test dan lolos, untuk selanjutnya menunggu 2 tahap selanjutnya,” ujar Pria asal negeri kanguru ini. Untuk melestarikan dan mengembangkan seni kerajinan batik, Gaura menghimbau agar adanya semacam pelatihan-pelatihan bagi anak-anak sekolah.“Ini adalah sebuah langkah penyelamatan batik dan sebagai cara untuk menumbuhkan kecintaan batik di kalangan anak-anak Indonesia.” tutur Gaura menutup pembicaraan. (*)

Jumat, 13 Februari 2009

Batik Pekalongan, antara Masa Lampau dan Kini


BATIK pekalongan bukan hanya terkenal di dalam negeri, tetapi juga terkenal di mancanegara. Batik pekalongan sejak lama diekspor ke sejumlah negara, antara lain Singapura, Thailand, dan Amerika Serikat. Sedemikian terkenalnya batik dari Pekalongan, Jawa Tengah sehingga jenis batik ini tidak berhenti hanya menjadi hasil kegiatan ekonomi, tetapi juga telah menjadi ikon wisata.
BATIK pekalongan menjadi sangat khas karena bertopang sepenuhnya pada ratusan pengusaha kecil, bukan pada segelintir pengusaha bermodal besar. Sejak berpuluh tahun lampau hingga sekarang, sebagian besar proses produksi batik pekalongan dikerjakan di rumah-rumah.
Akibatnya, batik pekalongan menyatu erat dengan kehidupan masyarakat Pekalongan yang kini terbagi dalam dua wilayah administratif, yakni Kota Pekalongan dan Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Batik pekalongan adalah napas kehidupan sehari-sehari warga Pekalongan. Ia menghidupi dan dihidupi warga Pekalongan.
Meskipun demikian, sama dengan usaha kecil dan menengah lainnya di Indonesia, usaha batik pekalongan kini tengah menghadapi masa transisi. Perkembangan dunia yang semakin kompleks dan munculnya negara pesaing baru, seperti Vietnam, menantang industri batik pekalongan untuk segera mentransformasikan dirinya ke arah yang lebih modern.
Gagal melewati masa transisi ini, batik pekalongan mungkin hanya akan dikenang generasi mendatang lewat buku sejarah.
FATHIYAH A Kadir, seorang pengusaha batik di Kota Pekalongan, mengatakan, pada awal tahun 1970-an hampir seluruh pekerja di unit usaha batik pekalongan adalah petani. "Jadi, mereka tukang batik sekaligus petani," ujarnya.
Ketika itu, pola kerja tukang batik masih sangat dipengaruhi siklus pertanian. Saat berlangsung masa tanam atau masa panen padi, mereka sepenuhnya bekerja di sawah. Namun, di antara masa tanam dan masa panen, mereka bekerja sepenuhnya sebagai tukang batik.
"Suasana kerja sangat diwarnai semangat keguyuban, semangat kekeluargaan," ungkap perempuan pengusaha itu.
Sebagaimana halnya motif batik pekalongan yang secara kontinu berubah seiring perjalanan waktu, suasana keguyuban atau kekeluargaan juga dirasakan telah berubah. "Terutama setelah keluarnya Undang-Undang tentang Tenaga Kerja," ungkap Fathiyah.
Lewat UU tersebut, pengusaha yang memiliki pekerja dalam jumlah tertentu harus mengikutkan pekerjanya dalam program Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek). Selain itu, UU yang sama juga memberi kesempatan bagi pekerja untuk mendirikan serikat pekerja sebagai alat perjuangan kepentingan mereka.
Aturan ini dinilai sebagai bentuk intervensi pemerintah yang merugikan pengusaha batik. Alasannya, pengusaha terpaksa membayar iuran Jamsostek dan mengizinkan pekerja untuk mendirikan serikat pekerja.
Pandangan semacam itu, menurut Ketua III Paguyuban Batik Pekalongan Totok Parwoto, masih banyak ditemui di kalangan pengusaha batik pekalongan. "Mereka melihat iuran Jamsostek sebagai beban. Padahal, justru dengan ikut serta dalam program Jamsostek, pengusaha menjadi terbantu. Jika terjadi sesuatu pada diri pekerja, tunjangan bisa diambilkan dari Jamsostek," katanya.
Totok mengungkapkan, masih banyak pengusaha batik pekalongan yang mengeksploitasi pekerja. Produk batik yang dihasilkan mencapai harga jutaan rupiah, namun kesejahteraan pekerja jauh di bawah batas kewajaran.
"Suatu waktu saya akan mengajak Anda ke suatu tempat usaha batik di Kelurahan Buaran, Kota Pekalongan. Pemilik tempat itu sangat memforsir pekerja. Batiknya laku sampai jutaan rupiah, tetapi pekerjanya hanya makan nasi bungkus, yang menurut saya, kurang layak untuk disajikan," ujar Totok.
ZAMAN telah berubah. Pekerja batik di Pekalongan kini tidak lagi didominasi petani. Mereka kebanyakan berasal dari kalangan muda setempat yang ingin mencari nafkah. Hidup mereka mungkin sepenuhnya bergantung pada pekerjaan membatik.
Tuntutan pekerja terhadap kesejahteraan yang lebih terjamin dipandang pengusaha sebagai bentuk perubahan zaman yang merugikan mereka. Suasana kekeluargaan sudah tidak ada lagi, suasana keguyuban sudah pupus.
Pengusaha semakin merasa tersudutkan karena pemerintah ternyata melindungi pekerja untuk membuat serikat pekerja dan mengharuskan pengusaha untuk ikut program Jamsostek.
"Kondisi ini semakin susah karena penjualan batik pekalongan anjlok setelah ada serangan bom di New York pada bulan September 2001, bom di Bali pada bulan Oktober 2002, dan terakhir terbakarnya Pasar Tanah Abang," ujar seorang pengusaha yang keberatan dengan UU Tenaga Kerja yang terbaru.
Belum lagi batik pekalongan kini menghadapi persaingan berat di dunia internasional. "Produk tekstil dari Vietnam dan Banglades terus mendesak pangsa pasar batik pekalongan. Padahal, produk yang mereka hasilkan bukan batik. Ini dikarenakan orang luar negeri sesungguhnya tidak peduli apakah jenis tekstil yang mereka beli itu batik atau bukan," ujarnya.
Apa yang dihadapi industri batik pekalongan saat ini mungkin adalah sama dengan persoalan yang dihadapi industri lainnya di Indonesia, terutama yang berbasis pada pengusaha kecil dan menengah.
Persoalan itu, antara lain, berupa menurunnya daya saing yang ditunjukkan dengan harga jual produk yang lebih tinggi dibanding harga jual produk sejenis yang dihasilkan negara lain. Padahal, kualitas produk yang dihasikan negara pesaing lebih baik dibanding produk pengusaha Indonesia.
Penyebab persoalan ini bermacam-macam, mulai dari rendahnya produktivitas dan keterampilan pekerja, kurangnya inisiatif pengusaha untuk melakukan inovasi produk, hingga usangnya peralatan mesin pendukung proses produksi.
Kompetisi yang kian ketat mengondisikan usaha kecil menengah untuk memperbaiki kinerja, sekaligus memperbaiki kualitas produk yang mereka hasilkan. Paradigma lama kerap menuding tuntutan perbaikan kesejahteraan pekerja sebagai kambing hitam terjadinya pembengkakan produksi.
Paradigma ini mengabaikan kualitas pekerjaan yang baik atau kreativitas untuk menghasilkan inovasi produk keluar dari pekerja yang sejahtera dan pekerja yang melaksanakan tugasnya dengan tenang.
Untuk bertahan di tengah kompetisi yang semakin ketat, pengusaha batik pekalongan sudah seharusnya mengadopsi paradigma baru dalam mengelola usaha mereka. Sebagaimana tersirat pada pandangan yang disampaikan Totok.
"Kualitas produk sangat ditentukan oleh pekerja. Program yang menguntungkan pekerja, seperti Jamsostek, sangat membantu pemberdayaan pekerja," ujarnya.
Hanya bersandarkan pada keunggulan upah pekerja yang murah sudah harus ditinggalkan pengusaha Indonesia, termasuk pengusaha batik pekalongan. Bersandarkan pada keunggulan berupa keunikan produk tampaknya juga sudah harus ditinggalkan.
"Pesaing kita semakin berat. Bayangkan, saat saya berkunjung ke Bangkok, saya melihat ternyata Thailand kini juga mampu membuat batik yang jauh lebih bagus daripada yang kita hasilkan," ungkap Totok.
BAGI pengusaha batik pekalongan, memasuki tahun 2004 adalah memasuki masa yang penuh kesulitan. Permintaan batik pekalongan dari segala penjuru di Indonesia anjlok drastis. Berkodi-kodi batik menumpuk di tempat pengerjaan karena lesunya permintaan.
"Ketika krisis moneter tahun 1997, batik pekalongan terpukul akibat kenaikan harga kain mori. Namun, dampak kenaikan harga kain mori cukup bisa diimbangi dengan penjualan ekspor batik pekalongan yang menguntungkan karena anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Kondisi ini berbeda dengan sekarang. Nilai tukar rupiah sudah relatif stabil, tetapi permintaan sangat lesu," kata Direktur Pasar Grosir Setono, Kota Pekalongan, Hasanuddin.
Sejumlah pedagang batik di pasar grosir menuding penyelenggaraan Pemilihan Umum (Pemilu) 2004 sebagai penyebab menurunnya omzet penjualan batik pekalongan hingga 50 persen. Argumennya, orang menunda perjalanan ke pekalongan karena menunggu hingga rampungnya kampanye Pemilu 2004.
Akan tetapi, bagi Hasanuddin, lesunya penjualan batik pekalongan terkait erat dengan penurunan daya beli masyarakat. Alasannya, jika penjualan batik pekalongan lesu hanya dikarenakan Pemilu 2004, tentu pesanan batik dari luar Pekalongan, seperti Makassar dan Surabaya, relatif tidak mengalami kelesuan karena orang tidak perlu melakukan perjalanan ke Pekalongan.
"Pengusaha batik yang dulu berorientasi menjual produknya ke luar kota sekarang beramai-ramai berjualan di Pekalongan. Ini ditandai dengan melonjaknya permintaan kios di pasar grosir," ujar Hasanuddin.
Akan tetapi, usaha itu tampaknya tetap tidak membantu. Bertumpuk-tumpuk batik tetap saja tak terjual di tempat produksi. Karena itu, dari sekitar 100 usaha batik di daerah Kelurahan Buaran, misalnya, sekitar 25 persen di antaranya sudah meliburkan pekerja. "Penjualan macet. Bagaimana mereka bisa melanjutkan produksi?" ungkap Hasanuddin.
Redupnya usaha batik pekalongan, menurut Hasanuddin, juga ditandai dengan kian banyaknya penyewa kios di Pasar Grosir Setono yang membayar ongkos sewa dengan cek kosong. Ini nyaris tidak pernah ditemui pada masa sebelumnya.
"Padahal, penyewa kios itu tergolong pengusaha besar dan nilai sewa yang harus dibayarkan cukup kecil, hanya Rp 1 juta-Rp 2 juta. Saya kira, dalam kondisi normal, tidak mungkin pengusaha yang tergolong cukup mapan melakukan hal tersebut," kata Hasanuddin lagi.
Akan tetapi, peka terhadap tuntutan pasar dan meresponsnya dalam bentuk inovasi dibuktikan pengusaha batik pekalongan, Rusdiyanto, yang berhasil menyelamatkan usahanya dari terpaan krisis. "Kalau saja saya tidak memulai memproduksi batik serat nanas tiga tahun lalu, usaha batik saya mungkin juga sudah meliburkan pekerja sekarang," kata pria yang tempat usahanya berada di Kelurahan Setono, Kota Pekalongan, tersebut.
Batik serat nanas yang diproduksi Rusdiyanto memang tidak terpengaruh oleh terpaan krisis. Harga kain batik pekalongan berserat nanas dengan ukuran panjang 2,56 meter dan lebar 1,15 meter bisa mencapai Rp 1,5 juta-Rp 3 juta. Karena itu, orang yang membeli jenis batik ini tentunya mereka dengan kondisi keuangan yang nyaris tidak terjamah gempuran krisis.
Bahkan, Rusdiyanto mengaku saat ini kesulitan untuk memenuhi order. "Batik serat nanas yang saya produksi tidak pernah menumpuk. Baru jadi, langsung dibawa pembeli ke Jakarta atau Singapura," ungkapnya.
Menurut Totok Parwoto, harga batik serat nanas di Jakarta naik berkali-kali lipat dibandingkan saat harganya masih di Pekalongan. "Kain batik serat nanas yang harganya di Pekalongan Rp 3 juta bisa mencapai Rp 7 juta di Jakarta," ungkapnya.
Batik serat nanas memiliki harga yang mahal karena suplai kain serat nanas masih sangat sedikit. Saat ini pengusaha batik serat nanas di Pekalongan hanya bergantung pada dua penyuplai kain serat nanas, yakni dari Kabupaten Pemalang dan dari Pabrik Radika di Pekalongan.
Sedikitnya produsen kain serat nanas disebabkan tingkat kesulitan yang cukup tinggi dalam proses pemintalan serat nanas menjadi benang, yang selanjutnya ditenun menjadi kain. Padahal, di Pemalang, terutama di Kecamatan Belik, tanaman nanas melimpah ruah.
Selain itu, harga kain batik serat nanas sangat mahal karena jenis batik ini dipadukan dengan serat sutra. Padahal, batik sutra sendiri sudah tergolong sebagai batik yang mahal. "Belum lagi pembuatan batik serat nanas dilakukan dengan tangan atau termasuk batik tulis. Satu bulan, satu pekerja saya hanya menghasilkan satu kain batik serat nanas," kata Rusdiyanto.
Inovasi yang dilakukan Rusdiyanto bukan hanya terbatas pada penggunaan serat nanas. Pengusaha batik ini juga melakukan inovasi pada motif batik. "Saya menggunakan motif batik pekalongan kuno," ujarnya.
Motif batik pekalongan kuno adalah motif yang dipakai saat pertama kali batik pekalongan muncul. Motif ini biasanya berbentuk tentara Belanda atau orang Belanda dengan segala atributnya. Bahkan, tidak jarang motif itu juga menggambarkan tank.
Warna yang digunakan Rusdiyanto juga warna saat batik pekalongan pertama kali muncul, yakni warna yang natural, seperti coklat atau merah bata. Berbeda dengan warna batik pekalongan sekarang, yang disebut orang dengan warna ngejreng. "Kain batik serat nanas dengan motif kuno dan warna alam ternyata sangat disukai pembeli dari luar negeri," katanya. (*)

Kamis, 12 Februari 2009

Gas Sebagai Alternatif Produksi Batik


KONVERSI mitan ke gas untuk digunakan dalam produksi batik rupanya sudah mulai dilakukan oleh sebagian perajin batik di Pekalongan. Seperti Jazuli Nur, salah satu perajin batik yang ada di Kelurahan Kauman. Ia mengaku sudah menggunakan kompor gas untuk produksi batik yang Ia kelola. "Untuk sementara masih dua buah kompor gas saja. Ini kan baru uji coba. Untuk alternatif kalau-kalau mitan sulit didapat lagi," terang jazuli saat dijumpai Radar di rumahnya.
Jazuli mengaku untuk berproduksi batik menggunakan kompor gas, Ia membutuhkan dana awal sebesar 400 ribu untuk satu buah kompor gas. Dengan perincian harga kompor 250 ribu, tabung dan gas 150 ribu. "Kami menggunakan tabung gas ukuran 3 kg dan untuk 1 tabung gas bisa digunakan sampai 4 hari. Dengan isi ulang gas Rp 13 500.Jadi biaya operasional per harinya Rp. 3500,- saja. Ini lebih murah dibandingkan menggunakan mitan yang untuk satu kompor menghabiskan 1.5 liter per harinya," lanjut Jazuli lagi. Namun walaupun menggunakan gas dinilai sudah lebih murah, Jazuli berharap konstruksi yang sedang dilakukan oleh mahasiswa ITB dengan merubah titik api kompor gas, bisa menjadikannya jauh lebih irit lagi. "Katanya sih nantinya tabung 3 kg bisa digunakan berproduksi sampai 10 hari, kalau hal itu benar-benar terjadi ya sepenuhnya saya beralih ke gas." Jazuli yang mempunyai 20 karyawan ini mengaku tidak mempermasalahkan harga mitan maupun gas. Ia hanya memikirkan jangan sampai para pekerjanya itu tidak bekerja karena kelangkaan mitan maupun gas. "Saya nggak pernah mikir harga, yang penting mereka bisa kerja. Terus terang sayang sangat mengutamakan karyawan saya, karena kalau mereka tidak kerja kan kasihan," ucap pria setengah baya ini.Terkait dengan musim hujan dan banjir yang melanda Pekalongan, hal itu diakui oleh Jazuli telah menurunkan omset batik hingga 50%. "Untuk order tetap stabil namun Omset menurun karena keterlambatan pengiriman batik. Produksi batik memakan waktu lama kalau hujan dan banjir seperti kemarin. Tapi alhamdulillah konsumen maklum dengan kondisi tersebut," jelas Jazuli. Menurut Jazuli, selama musim hujan dan banjir yang terjadi beberapa waktu lalu, produksi batiknya tak pernah berhenti. Ia memanfaatkan ruangan yang sangat luas untuk mengangin-anginkan batik. "Nggak pernah sampai mandeg. Kalaupun ruangan sudah penuh, karyawan saya tetap kerja walaupun hanya 1/2 hari." Usaha batik yang dikelola Jazuli dalam satu hari bisa memproduksi batik 500 meter dengan omset perbulan sekitar 10.000 meter. (*)