Rabu, 11 Februari 2009

Pelaku UKM Dilatih Manajemen Telecenter

HARUS diakui bila daya saing pelaku usaha Pekalongan, khususnya yang bergerak pada usaha kecil dan menengah (UKM) bisa dikata masih rendah bila dibandingkan dengan bangsa lain. Itu karena tidak mampunya mereka mengakses terhadap berbagai sumber daya produktif, termasuk informasi, pengetahuan dan teknologi.
Karena itu, Pemkot bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Manajemen dan Informatika Komputer (STMIK) Widya Prathama, yang didukung penuh dari Departemen Komunikasi dan Informasi (Depkominfo), Depertemen Pemberdayaan Perempuan, Kementrian Riset dan Tekhnologi, dan BPPT menyelenggarakan pelatihan mengenai 'Managemen Telecenter' di kampus yang berada jalan Patriot tersebut.
Pelatihan tersebut, merupakan tindak lanjut dari ditandatanganinya perjanjian kerjasama oleh Walikota Pekalongan dr HM Basyir Ahmad, Ketua STMIK Widya Prathama Agus Wahyudi S Si MKom, serta dari BPPT.
Diantara pelaku UKM yang mengikuti acara tersebut, adalah perajin UKM, perajin ikan asin, pengusahaa ikan, perajin batik, serta pengurus Ormas. Mereka dilatih mengenai manajemen telecenter dari BPPT.
Direktur Pusat Pengembangan TIK BPPT, DR Tatang Wahyudi yang menyampaikan materi mengatakan, telecenter merupakan suatu tempat atau fasilitas yang dilengkapi dengan teknologi informasi, dan komunikasi yang umumnya digunakan untuk pemberdayaan komunitas. "Pembangunan telecenter tersebut, telah berdiri di banyak daerah seperti di Gorontalo. Dengan adanya telecenter, mayarakat miskin bisa mengakses informasi dari internet," ucapnya.
Dengan dibangunnya telecenter, beber Tatang , diharapkan bisa meningkatkan aksebilitas masyarakat terhadap sumber informasi, pengetahuan, dan teknologi serta sumber daya produktif lainnya. Bisa meningkatkan proses pembelajaran kontektual, mendorong kreativitas dan inovasi. "Serta menfasilitasi pengembangan jaringan kemitraan untuk memberikan peluang penting bagi masyarakat untuk berkembang," ungkapnya, sembari menambahkan juga mendukung promosi potensi keunggulan via internet.
Tatang Wahyudi menyebut, Telecenter memiliki peran dalam penyediaan informasi, mengembangkan komunikasi, membangun kapasitas komunitas, mengembangkan kemitraan, dan menfasilitas kegiatan komunitas masyarakat.
Sarana generik yang dibutuhkan untuk membangun telecenter, terang Tatang Wahyudi, berupa sarana dasar berupa komputer 5 unit, akses ke Internet, Peripheral seperti Printer, Scanner dan Jaringan. Serta saran pelatihan dan pertemuan, serta sarana penunjang. "Seperti Laptop, LCD Proyektor, Digital Camera, VCD, dan Web Cam," terang Tatang Wahyudi. (dur)

Batik dari Titik Menjadi Abadi



SIAPA yang tak kenal batik. Hampir semua orang mengenalnya. Kain ini memang populer di kalangan tertentu, dijadikan benda koleksi, dipuja, dan disimpan bak barang antik. Tak mengherankan untuk mendapatkannya, kolektor rela mengeluarkan dana tak terbatas hanya untuk selembar batik. ” Bukan nilai uangnya yang menjadi ukuran, tapi kepuasan jika berhasil memiliki,” ujar Thomas Sigar, kolektor batik yang juga seorang perancang busana.
SH/Gatot IrawanJenis batik Pekalongan berwarna cerah dan coraknya besar. Biasa dipakai sebagai pasangan untuk kebaya encin.
Kenapa kain itu disukai dan dijadikan koleksi? Menurut beberapa kolektor karena batik adalah barang seni. Batik ibarat sebuah lukisan, pembuatannya makan waktu, tidak pabrikan tapi satu persatu. Ini dianggap bernilai, terutama jenis batik kuno yang motifnya klasik. Batik klasik memiliki pola dasar tertentu dengan berbagai macam variasi motif flora dan fauna.Dulu sempat berkembang polemik soal arti kata batik berasal dari mana. Sampai sekarang pun mereka belum sepakat soal apa arti sebenarnya kata batik itu. Ada yang bilang bahwa sebutan batik berasal dari kata tik yang terdapat dalam kata titik. Titik berarti juga tetes. Memang dalam pembuatan kain batik dilakukan penetesan lilin di atas kain putih. Ada juga yang mencari asal kata batik dalam sumber tertulis kuno. Oleh mereka yang menelusuri dari data kuno itu dihubungkan dengan kata tulis atau lukis. Pendek kata, asal mula batik lalu dikaitkan pula dengan seni lukis dan gambar pada umumnya. Setuju atau tidak, batik tak terpengaruh. Kain khas ini sudah hadir selama berabad-abad.Bisa Punah Pada awalnya batik adalah pakaian raja-raja di Jawa di masa silam. Kemudian berkembang menjadi pakaian sehari-hari orang Jawa. Walau batik identik dengan pakaian adat Jawa, namun kini sudah menjadi pakaian nasional, bahkan cukup dikenal di mancanegara. Kepopuleran batik seakan pisau bermata dua. Di satu sisi menjadikannya komoditas yang bernilai, di sisi lainnya batik kuno bakal punah karena dibeli oleh orang asing.untuk koleksi. ” Sebenarnya itu ketakutan yang nggak beralasan,” ujar Thomas. Batik kuno memang harganya mahal. Ada yang jutaan rupiah sampai ratusan juta rupiah. Orang-orang asing itu, lanjutnya, punya apresiasi yang baik terhadap batik dan punya uang. Mereka tak hanya sekadar mengoleksi tapi juga belajar tentang batik. Berbeda dengan orang kita yang sekadar koleksi dan cenderung ikut-ikutan. Apa itu batik dan apa makna di dalamnya, kurang dipahami.Menurut Thomas, memang ada banyak juga warga Indonesia yang sangat mengerti batik. Mereka berusaha menyelamatkan dan melestarikan lewat perkumpulan atau upaya pribadi. Mereka ini saling bertukar informasi dengan berbagai kolektor, termasuk kolektor asing. ” Jadi saya nggak setuju kalau batik kuno bakal hilang. Mereka menyimpannya teliti dan sangat baik,” katanya. Motif LangkaThomas mengaku suka batik sejak lama. Sebagai perancang busana, dia mau tak mau akhirnya bersentuhan dengan kain itu. Koleksinya adalah batik-batik lawas tapi pilihan. Jumlahnya ratusan buah. Dia tak mau bicara soal nilai koleksinya, tapi dijamin semuanya berkualitas.Dari sekian banyak koleksinya, ada batik yang amat disukainya, yakni batik Van Zuylen. Thomas memiliki tiga batik buatan orang Indo Belanda itu. Dalam perkembangan perbatikan di Tanah Air, ada fase penjajahan Belanda. Dalam fase ini, batik lokal dipengaruhi oleh selera Eropa. Makanya dalam motif-motif batik yang ada dalam masa itu terdapat buket, kartu remi, meriam dan sebagainya yang berbau-bau Eropa.Koleksi Thomas lainnya adalah batik Cirebon yang bermotif mega mendung. Bagi penggemar batik, rasanya tak mungkin tak mengoleksi jenis batik pesisiran itu. Tapi yang ini, sambungnya, unik. Dasar kainnya hitam dengan motif mega mendung merah. Belum pernah Thomas melihat dasar kain batik Cirebonan berwarna hitam. Koleksi ini didapat seorang ibu yang dulu pernah bekerja pada Fatmawati Soekarno, presiden pertama RI.Untuk menghadirkan motif klasik yang langka, ada upaya dari penggemar batik Mereka membuat batik baru dengan motif-motif lama. Ini salah satu pelestarian motif sehingga tidak hilang. Tetapi dari segi mutu, berbeda karena proses yang dilakukan pada zaman dulu berbeda dengan masa kini. Sehingga bagi kolektor fanatik, jenis batik replika ini kurang digemari. Tetapi bagi pecinta batik lainnya, ketimbang tidak dapat yang asli yang replika pun boleh-boleh saja.
SH/Gatot IrawanEtty Tejalaksana, koleksi batiknya barulah 150 buah
Sulit MembedakanMembedakan yang asli dan replika bagi penggemar pemula, memang agak susah. Apalagi jika ia tak pernah melihat sebelumnya di literatur. Tapi bagi yang ahli, mudah membedakannya, jika memegangnya. Terutama dilihat dari tekstur kain dan tampilan warna. ” Yang replika biasanya lebih bagus dari aslinya,” sambung Thomas. Tapi bukan pula yang bagus itu selalu replika. Sebab banyak batik Belanda, begitu julukannya, disimpan secara apik oleh pemiliknya. Sehingga sampai kini pun warnanya tidak berubah, kainnya mirip kain baru. Mungkin karena sama sekali tidak pernah dipakai. Begitu pun jenis batik klasik lainnya yang tetap bagus kondisinya hinga kini. ” Penyimpanan dan perawatan menentukan keawetannya. Sebaiknya jika ingin mengoleksi batik kuno, kita harus rajin tanya. Atau membeli langsung dari pemilik atau pewarisnya,” saran Thomas.Etty Tejalaksana, penggemar baru, mengakui awalnya dia sering tertipu. Membedakan antara batik yang bagus dan tidak saja, sulit. Makanya sarannya jika seseorang ingin menekuni hobi batik, harus belajar. Ilmu batik tak hanya yang ada di buku-buku. Semakin sering terjun ke lapangan yakni mendatangi pembatik tradisional, berburu ke pelosok, bisa mengasah pengetahuan. Ibarat bayi, semakin sering jatuh maka semakin cepat berdiri.Ibu tiga anak itu mencontohkan batik Pekalongan yang diperlihatkan pada SH. Secara kasat mata, penampakannya sempurna. Warna-warnanya serasi, motifnya menarik, namun kalau diperhatikan ada warna yang tidak merata. ” Dalam proses pembuatan, mungkin perajin kurang cermat mencelupkanya saat pewarnaan. Jadi batiknya belang-belang tipis. Ini produk gagal, namun ada yang suka karena gradasi warnanya serasi,” tuturnya.Etty mengaku jumlah koleksinya baru sekitar 150 lembar, terdiri dari kain dan selendang. Maklum dia baru menyukai batik pada 1998 akhir. Ketika itu dia jatuh hati pada batik Hohokay. Dikatakannya, ini batik spesial yang dibuat pada masa penjajahan Jepang. Motifnya banyak dipengaruhi unsur Jepang. Seperti warnya yang condong kebiru-biruan dan kekuning-kuningan.Dari sinilah dia kemudian mulai mengoleksi satu demi satu. Pikirnya ketimbang kebarat-baratan, lebih baik melestarikan karya leluhur . (*)

Selasa, 10 Februari 2009

50 Pekerjanya Perempuan Semua




BATIK SEKAR WANGI. Inilah merk dagang milik H Kadarisman, warga Kelurahan Sapuro Kecamatan Pekalongan Barat yang spesialis membuat batik tulis dari bahan sutra. Yang unik dari usahanya itu, 50 orang pekerjanya berjenis kelamin perempuan semua.Kadarisman mengaku, sebelum membuat batik tulis dari bahan sutra. Dirinya membuat batik dari bahan katun. Kemudian bahan katun ditinggalkan, dan beralih ke bahan sutra sampai sekarang."Saya telah menekuni usaha batik sebelum 1981. Baru 1981, saya didaftarkan ke pemerintah untuk mendapatkan legalitas," ucap Alumnus Sekolah Tinggi Perbankan di Jakarta.Kadarisman mengaku, usahanya yang sekarang mengalami penurunan produksi dibanding tahun lalu. Saat rezim Soeharto, usahanya mengalami masa keemasan antara tahun 1996 sampai 1997. Karyawannya ada 130 orang. Namun sekarang 50 orang saja sebagai dampak krisis ekonomi, persoalan gejolak ekonomi yang ditandai dengan naiknya harga kedelai, terigu dan minyak goreng.Saat jaya-jayanya pula, pemasarannya tidak hanya lokal Indonesia saja. Melainkan diekspor ke luar negeri, yakni ke Malaysia dan Brunai Darussalam."Waktu itu ada 3 buyer yang mengekspor batik tulis saya ke luar neg eri. Namun kini sudah tidak lagi, bahkan satu diantara 3 perusahaan itu terpaksa dijual karena gulung tikar," ucapnya sembari menyebut saat jaya-jayanya, setiap bulan mengirim 600 potong batik tulis. Namun sekarang batik sutranya dijual ke lokal saja di Jakarta, Palembang, dan Bandung. Untuk pemasarannya, kata Kadarisman, ditangani sendiri. Begitupula produksinya. Ia sekarang mempekerjakan 50 orang saja. Yang unik, dari 50 pekerjanya itu perempuan semua. "Perempuan itu mempunyai jiwa halus. Berbeda dengan laki-laki yang biasanya muncul sikap kasar. Meski begitu, ada juga laki-laki yang memiliki jiwa halus, seperti Iwan Tirta dan desainer yang lainnya," ucap penerima Upakarti dari Presiden Soeharto karena keberhasilannya melakukan pembinaan kepada usaha kecil.Pekerja yang semuanya perempuan, lanjut Kadarisman, tidak hanya dilakukan dirinya. Saat ibunya masih hidup, juga mempekerjakan batiknya pada pekerja perempuan. "Sekarang menurun pada saya. Mulai dari pembatik, ngelorot sampai yang memberikan warna, semuanya ditangani pekerja perempuan," akuinya yang juga pernah menerima Upa Pradana dari Gubernur Jateng Ismail. Disinggung tentang strategi dalam mempertahankan usahanya? Kadarisman mengaku, selalu berinovasi dalam menciptakan motif-motif. Dalam menggali inspirasi, ia memanfaatkan media yang ada. Hasilnya motif yang dihasilkan selalu berbeda, sesuai dengan perkembangan mode.Disamping itu, Ia tetap mempertahankan warna batik, yakni warna marun (merah hati). Warna marun itu merupakan ciri khas Batik Sekar Wangi.Kadarisman menjelaskan, nama Sekar Wangi diilhami dari adanya merk batik 'Arum Dalu' yang artinya wangi bila malam hari. Batik Arum Dalu tidak lama bertahan, dan akhirnya gulung tikar. Dengan nama Sekar Wangi yang artinya mewangi sepanjang hari diharapkan batiknya tetap lancar, dan tidak mengalami hambatan pemasaran, dan bahan baku. "Alhamdulilah sampai sekarang masih lancar," pungkas Kadarisman. (dur)

75 Perajin Batik Tak Produksi


PABEAN - Akibat banjir, sekitar 75 perajin batik di kelurahan Pabean Pekalongan Utara tidak melakukan produksi batik. Demikian diungkapkan oleh H Nasir, ketua paguyuban batik Pabean, Selasa (10/2). "Cuaca memang cukup cerah. Tapi aktivitas mereka (perajin-red) belum pulih benar," katnaya. Belum pulihnya aktivitas produksi batik di Pabean. Karena masing-masing pekerja masih sibuk membersihkan rumahnya dari genangan air. Dalam pantuan Radar, sebagian tempat produksi pembatikan masih tergenang. Bahkan ada yang airnya setinggi lutut orang dewasa.Nur, salah seorang perajin batik mengungkapkan, dirinya lebih memilih menjemur pakaian yang belum kering dari pada melakukan produksi batik. "Cuacanya nanggung mas. Nanti sore juga hujan lagi. Mendingan jemur pakaian," tutur perajin batik yang memiliki 20 orang karyawan ini.Bisa dibayangkan berapa rupiah yang 'mandeg' karena tidak ada proses produksi. Tak hanya berdampak pada sektor ekonomi, banjir juga mempengaruhi aspek sosial, yakni bertambahnya jumlah pengangguran. Karena ratusan buruh batik terpaksa nganggur. (*)

Senin, 09 Februari 2009

Kembangkan Canting Antik


KALAU ingin mendapatkan canting atau cap yang antik, mungkin di Muhsinin warga Kelurahan Landungsari nomor rumah 37-tempatnya. Karena Ia sejak 2005 tetap konsisten mengembangkan kerajinan membuat canting antik.
Muhsinin mengaku mendapat keahlian membuat canting yang antik dari ayahnya, Abdul Halim. sedangkan ayahnya mendapat pengatahuan dari ayahnya (kakek Muhsinin). "Dulunya itu saya membantu ayah. Karena sebagai anak itukan harus patuh, dan mau membantu orang tua bila ada pekerjaan," ucapnya.
Dari awalnya membantu orang tua itu, lanjut Inin, tumbuh kecintaan pada kerajinan membuat canting. Sehingga keinginnya memuncak, dan tepatnya tahun 2005 membuat usaha sendiri. Meskipun sampai sekarang masih saja 'dompleng' usaha bapaknya membuat kerajinan canting. "Mulai tahun 2005, itu saya total menekuni usaha membuat canting," tandasnya.
Dalam memulainya usahanya itu, Inin datang ke pengusaha batik satu ke pengusaha batik yang lain untuk menawarkan jasa pembuatan canting. Hingga kerja kerasnya membuahkan hasil dengan menerima pesanan membuat canting, sebanyak 4 unit."Ketika menerima pesanan canting, saya nekad. Artinya, meski kemampuan keahlian yang saya miliki tidak sekaliber Bapak. Namun dalam pembuatan pesanan Saya sering minta diajari Bapak. Alhamdulilah pesanan pertama berhasil bagus," ucapnya.
Setelah pesanan perdana berhasil, kemudian pelan tapi pasti. Pesanan datang, meski tidak banyak. Bila dirata-rata semingu sekali ada pesanan, baik datang dari Pekalongan maupun dari Jakarta."Seperti sekarang jumlah pesanan meningkat. Karena usaha batik sekarang mulai membaik. Kalau batik ramai, kami juga ikut ramai."
Inin menyebut, bahan baku yang digunakan untuk membuat canting dari lempengan tembaga, dan lempengan besi. Tembaga diperoleh dari Tegal, harganya Rp 70 Ribu perkilogram. Sedangkan lempengan besi-juga diperoleh dari Tegal harganya Rp 6 Ribu. "Kini rencananya harga akan naik," ucap pria yang hanya lulusan SMU saja.
Mengenai bahan baku, Inin mengaku tidak ada kesulitan. Hanya saja ketika krisis ekonomi tahun 1996/1997, sempat terjadi kelangkaan bahan baku. Itu terjadi karena perilaku oknum pedagang yang cenderung menyembunyikan barang, kemudian menaikan harga lempeng tembaga.
Inin mengatakan, untuk membuat kerajinan canting membutuhkan ketekunan, ketelitian dan kesabaran. Karena untuk membuat satu unit canting saja kadang membutuhkan waktu yang sulit ditebak kapan selesainya. Namun pengrajin yang serius, membutuhkan waktu 10 hari saja.
Mengenai harga canting? Inin menyebut sangat tergantung dari rumitnya motif, serta ukurannya. Semakin rumit seperti motif sekarjagad, dan ukurannya besar maka semakin mahal. Begitupula sebaliknya. "Kalau terendah Rp 75 Ribu, sedangkan termahal Rp 700 Ribu," ucapnya yang mengaku menerima segala macam motif. (dur)

Kamis, 05 Februari 2009

Jangan Salah Memilih Batik


DIAKUI atau tidak, selama ini orang masih mengenal batik dari sisi motif atau design saja. Padahal batik merupakan sebuah proses dari sebuah kain putih yang ditulis melalui 'niba' (malam/lilin ) mengikuti pola gambar dengan cara menulis ('nitik' istilah bahasa jawa ), atau dengan cara mengecap (memakai canting cap)."Masyarakat pengguna batik mulai sekarang perlu lebih cermat dan teliti dalam memilih batik. Karena batik itu sebuah proses dari sebuah kain putih yang ditulis melalui malam, atau mengecap," ucap Khusnul Khotimah, pemilik Rafli Fashion yang tinggal di Kelurahan Banyurip Ageng, Rt 02 Rw 05 Pekalongan Selatan.Kalau demikian, kata Mbak Khusnul-sapaan akrabnya, apakah semua batik yang beredar dipasaran dengan suguhan design dan corak warna warni dapat semua dikatakan batik. Apalagi banyak orang mengatakan ada batik China masuk Indonesia."Pertanyaannya apakah batik yang dibuat orang China patut disebut batik. Geli? rasanya bila mendengar demikian karena orang China kok rasa-rasanya tidak mampu membuat batik, kalau orang China membuat kain yang disablon menyerupai dengan design batik, ?baru ya," ungkapnya.Istilah gampangnya, lanjut Mbak Khusnul, batik buatan China itu sama saja kain tekstil yang dibuat mirip design batik yang asli melalui teknik sablon (printing). "Karena kesalahfahaman masyarakat dalam menafsirkan batik itu sendiri menjadi salah kaprah tanpa mengetahui asal usul proses pembuatan batik," beber Mbak Khusnul.Karenanya teknik printing ungkapan para pembatik perlu ditegaskan kembali kepada masyarakat awam. Karena perjalanan proses batik, banyak masyarakat yang belum tahu jika digambarkan bahwa printing itu sama saja sablon baru masyarakat awam akan lebih tahu."Teknik sablon bahan dasar untuk membuat design dengan memakai tinta berbeda batik yang asli memakai lilin. Jadi Batik sablon bisa disebut batik ASPAL ( asli tapi palsu ) jika ditinjau dari prosesnya, karena batik yang asli bahan dasar untuk menulis design adalah lilin yang ditorehkan pada kain," Mbak Khusnul."Nah, bagaimana jika halnya kita ditawari sebuah kain batik oleh pedagang ditoko maupun dipasar. Tanyakan kepadanya, ?batik asli atau batik sablon."Mbak Khusnul menjelaskan, batik yang asli ada istilah batik cap ( stempel ) dan batik tulis yang menggunakan alat canting untuk melekatkan niba ( malam / lilin ) pada kain dengan mengikuti pola gambar. "Fungsi daripada malam atau lilin itu sendiri untuk menutup pola gambar yang diinginkan masih tetap utuh apabila dicelupkan obat pewarna.Keunggulan batik yang asli dengan batik sablon, kata Mbak Khusnul, tentunya sangat jauh berbeda. Jika batik asli permukaan kain dibalak balik sama karena teknik pewarnaannya dengan pencelupan. Sedangkan jika batik sablon permukaan kain bolak-baliknya tidak sama terkesan yang satu bergambar permukaan baliknya polos. "Karena teknik batik sablon pewarnaannya dengan cara menorehkan obat pewarna atau tinta dipermukaan kain saja tidak dicelup. Inilah yang menjadikan batik sablon itu cepat luntur karena warna hanya menempel dipermukaan saja tidak meresap keseluruh sel-sel kain," terang Mbak Khusnul.Sehingga wajar jika batik yang asli harganya lebih mahal dibanding dengan batik sablon ditinjau dari prosesnya batik yang asli melalui berbagai tahapan proses jika batik sablon dengan cara bim salabim maka jadilah batik sablon. (dur)

Cepagan Cikal Bakal Tumbuhnya Sentra Kerajinan di Batang


SELAIN Desa Pakumbulan Kec Buaran Kab Pekalongan yang dikenal sebagai sentra hadycraft. Ternyata di Desa Cepagan Kec Warungasem Kab Batang juga ada aktivitas pembuatan kerajinan tangan seperti mambuat plismate, dan Sajadah Akar Wangi.
Hal tersebut bisa menjadi cikal bakal tumbuhnya sentra kerajinan di Batang. Apalagi bila pemerintah daerah setempat memiliki kepedulian untuk mengangkat handicraft hasil warganya. Tentunya akan mendongkrak pamor Desa Cepagan.
Salah satu yang menekuni usaha handicraf, adalah Rozi. Bapak satu anak ini menekuni handycraft sejak lama. Awalnya Ia mengaku mengikuti trend masyarakat sekitarnya yang membuat kerudung ATBM."Saat itu, sekitar tahun 1990-an, kerudung ATBM lagi jaya-jayanya. Permintaan dari Bali sangat banyak, bahkan warga sini sempat tak menyanggupi pesanan kerudung karena banyaknya pesanan," ucap Rozi yang ditemui di rumahnya.
Namun kejayaaan itu tidak berlangsung lama seiring terjadinya krisis ekonomi tahun 1997. Permintaan menurun, sampai kondisi sekarang. "Permintaan ada. Tapi tak seramai dulu," ungkapnya.
Mengisi kekosongan karena menurunnya permintaan, Rozi mengisinya dengan menerima pesanan mengerjakan pesanan sajadah akar wangi, serta plismate. Ia menerima pesanan dari Pengusaha Eksportir Pekalongan yang selalu melakukan transaksi ke luar negeri. "Oleh agen diekspor ke Timur Tengah. Sebut saja Turki, Mesir, dan Dubai," tandasnya.
Biasanya Eksportir Pekalongan itu, beber Rozi, ketika menerima order dari luar negeri dengan jumlah banyak. Sehingga untuk mengerjakannya dibagi ke beberapa pengrajin, baik pengrajin yang berada di Pakumbulan, dan Cepagan. "Saya biasanya kebagian 1000 unit sajadah akar wangi," bebernya.
Rozi mengaku tak kesulitan mendapatkan bahan baku, baik akar wangi maupun benang. Sebab ada pemasok bahan baku. Yang menjadi hambatan adalah terbatasnya modal yang dimiliki. Serta tekanan harga dari Eksportir Pekalongan.
"Kalau Saya minta harga cukup tinggi ditolak. Karena yang mengerjakan pesanan...sekarang sudah banyak. Makanya para perajin handycraft itu tak memiliki bergaining. Kita selalu kalah kalau dibenturan harga," keluhnya.
Sehingga yang terjadi, para perajin handicraft menyanggupinya walaupun berat. Sebab keuntungan yang diperoleh sangat kecil. Serta memikirkan agar pekerjanya tidak menganggur, karena tidak ada pekerjaan. "Kalaupun keuntungan kecil, kita terima asal buruh tetap bekerja," akuinya.
Selain itu, yang dikeluhkan lagi. Perajin handicraf akar wangi kesulitan untuk menjemur karena sering hujan. "Kalau akar wanginya basah. Maka tidak bisa ditenun. Akibatnya pekerja terancam menganggur," keluhnya lagi. (dur)